MEMBANGUN DESA DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENUJU MASYARAKAT DESA MELEK IT MOTTO DESA SUCI "SUCI DESANE - SUCI ATINE - BAKAL SUGIH DUNYANE - SUGIH AKHIRATE"

Artikel

BUDAYA REBO WEKASAN DESA SUCI

10 Februari 2023 00:00:00  Administrator  18.079 Kali Dibaca  Berita Desa

     Budaya Rebo Wekasan Rebo Wekasan, disebut pula dengan istilah Rabu Wekasan, atau Rebo Pungkasan. Rebo artinya nama hari dalam bahasa Jawa, yaitu Rabu dalam bahasa Indonesia. Sedangkan Wekasan adalah bahasa Jawa yang artinya pungkasan atau akhir. Jadi, Rebo Wekasan secara bahasa adalah hari Rabu Terakhir. Tapi, sebagai sebuah istilah tradisi, maka Rebo Wekasan adalah tradisi budaya yang diadakan di hari Rabu Terakhir dari Bulan Safar, yaitu bulan ke-2 dari 12 bulan penanggalan Hijriyah. Tradisi budaya Rebo Wekasan ini adalah hari yang tidak tergantung pada hari pasaran dan neptu untuk melakukan suatu upacara adat di Jawa. rebo Wekasan dianggap sebagai hari-hari datangnya 320.000 sumber penyakit dan marabahaya 320.000 bencana. Maka rata-rata upacara dilaksanakan pada hari ini adalah bersifat Tolak Bala. Tradisi ini kental dengan nuansa Religius (Islam) dan meluas di Jawa (Pantura). Tujuan peringatan Rebo Wekasan adalah menolak bencana (Tolak Balak) dan wujud rasa syukur. Kegiatan yang dilakukan berkisar pada kegiatan berdo'a, Sholat Sunnah, bersedekah. Rebo Wekasan merupakan wujud Akulturasi Budaya Jawa (Islam dan Jawa).Daerah yang mengenal dan melakukan tradisi ini mayoritas adalah Daerah Pesisiran. Daerah yang dikenal relatif lebih dulu, kuat, dan kosmopolit keislamannya dibanding daerah Pedalaman Jawa.

     Daerah pesisir tersebut seperti Gresik, Probolinggo, Situbondo, Pasuruan (Jatim), Tasikmalaya, Cirebon (Jabar), Pandeglang, Serang (Banten), yang memiliki tradisi Rebo Wekasan dengan nama istilah yang berbeda-beda. Antara lain: Sedekah Ketupat, Sedekah Kupat di daerah Dayeuhluhur, Cilacap, Upacara Rebo Pungkasan, Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta, Tradisi Ngirab, di daerah Kawasan Cirebonan, Safaran di beberapa daerah Pantura, dan Rebo Wekasan di Desa Suci, Kec. Manyar, Gresik Sendiri.

Keistimewaan Tradisi Rebo Wekasan di Suci, Gresik, yaitu:

  1. Tradisi Rebo Wekasan lahir dari INSTRUKSI LANGSUNG Kanjeng Sunan Giri (Wali Songo) melalui muridnya Syeikh Jamaludin Malik.
  2. Rebo Wekasan di Gresik (Suci) tetap lestari berlangsung ratusan tahun (konsep berkelanjutan) sehingga diperkirakan menjadi tradisi Rebo Wekasan TERTUA di Tanah Jawa (sejak 1483).
  3. Tradisi Rebo Wekasan di Gresik SINKRONIK (berkesesuaian) dengan situs-situs bersejarah yang ada (Manyar, Gresik), seperti Sumur Gede, Masjid, Telaga, dll.
  4. Rebo Wekasan di Gresik diikuti oleh tidak hanya warga Suci, namun telah membudaya bagi masyarakat sekitarnya (Gresik), sehingga mampu menjadi BUDAYA DAERAH (Local Genius). Sejarah Desa Suel & Rels Wekasan.
  5. Makna Tradisi Rebo Wekasan ialah menunjukkan bagaimana proses internalisasi ajaran ajaran Islam ke dalam tradisi masyarakat setempat. Rebo Wekasan menjadi proses akulturasi budaya masyarakat yang patut dilestarikan. Rebo Wekasan mengandung nilai-nilai karakter (religius, gotong royong, kerjasama, peduli, kerja keras, toleransi) yang pokok bagi generasi penerus.

Perjalanan Ritual Rebo Wekasan Desa Suci

     Kisah terjadinya Desa Suci dan acara Ritual Rebo Wekasan adalah sebagai berikut: Semasa kekuasaan KS. Giri/R. Paku/Joko Samudro/Prabu Satmata / Ainul Yaqin beliau memerintahkan Syeikh Jamaludin Malik untuk menyebarkan ajaran Islam ke wilayah barat Giri. Tepatnya di kampung Polaman timur selatan Desa Suci sekarang kemudian Syeikh Jamaludin Malik mendirikan sebuah masjid untuk Sarana Pendidikan / Ponpes. Sedangkan untuk kebutuhan air di buatkan Sumur, Sumur Gringsing dan Sumur Gede. Sumur Gringsing sumbernya kecil, sedang Sumur Gede airnya / sumbernya besar. Atas kuasa Allah SWT disebelah Sumur Gede ditumbuhi pohon asam yang buahnya rasanya manis. Sehingga kampung itu dinamakan Kampung Asemanis sampai sekarang. Tahun berganti tahun, santri santri bertambah banyak sehingga kebutuhan air dari Sumur Gede tidak mencukupi, kemudian Syeikh Jamaludin Malik matur kepada K. S. Giri. Kemudian K.S. Giri memberi petunjuk agar berjalan ke utara menelusuri lereng gunung dan apabila nanti melihat segerombolan tumbuhan besar di sebelah barat maka lihatlah insya Allah disitu ada sumber air. Betul, setelah di dekati ternyata di bawah rerumbunan pohon besar diantaranya:

  • Pohon Randu
  • Pohon Abar
  • Pohon Kayu Tangan
  • Pohon Kedoyo
  • Pohon Sono
  • Pohon Trembesi
  • Pohon Nyamplung
  • Pohon Beringin

     Kemudian benar dibawah pepohonan tersebut dilihat ada sumber air (ditemukan tahun 1403 menurut Buku Jadi Kota Gresik). Airnya sangat jernih dan besar. Air yang suci dan mensucikan. Sehingga kampung itu dinamakan kampung "SUCI". Dulu disebut kampung Krajan, tempat atau rumahnya tokoh-tokoh terkenal desa Suci, tepatnya di RT. 2 RW. 1 sekarang. Kemudian Masjid di Polaman dipindah ke sebelah barat sumber tersebut yang sekarang Masjid Mambaut Thoat ini. Sedangkan sumber air dibangun waktu itu menjadi beberapa menurut fungsinya:

  • Sendang Wadon (tempat mandi orang perempuan)
  • Sendang Lanang (tempat mandi orang laki-laki)
  • Guyangan (tempat memandikan ternak dan pengairan sawah ladang)
  • Blumbang (tempat mandi keluarga)
  • Kola (tempat sesuci akan sholat)

     Sendang  di sebelah masjid Sedang di tepi barat jalan depan kantor NU sekarang ada sebuah batu besar bulat lempeng + median 1,5 m, tebal 25 cm itu tempat duduk-duduk keamanan kawedanan Suci.

     Selanjutnya K.S. Giri mengadakan Ritual Tahunan tiap hari Rabu akhir / Wekasan / Pungkasan di Masjid ini dengan Mandi Malam, Bersesuci, Berwudhu, Bersodaqoh (dengan cara melempar uang ke dalam sendang) kemudian dilanjutkan Sholat Sunnat Mutlak 4 rakaat 2 salaman agar terhindar dari Balak / Bencana/Penyakit disamping itu juga bertujuan:

  1. Tasyakuran / bersyukur atas penemuan sumber air yang sangat besar tersebut.
  2. Tabarrukan/ Ngalab barokah air penemuan waliyullah dengan mandi, sesuci, mengambil air untuk obat, dll. Kesemuanya acara ritual tersebut mengambil dari keterangan sebuah kitab lama yang bernamakan Kan Jun Naja Wassurur

     Yang dikutip Assyeikh Abi Muhammad Miftah Abd. Khanan Ma'sum pengasuh Ponpes Fathul Ulum Kewagean Pare Kediri. Dalam kitabnya yang bernama "Majjemu'at Sullamul Futukhat" yang menerangkan sebagian Ulama' Ahli Ma'rifat Ahli Kasab Wattamkin (Ulama yang bisa terbuka mata hatinya). Sesungguhnya Balak / Bencana / Penyakit itu diturunkan tiap tahun 320.000 macam balak dan dirurunkan pada hari Rabu Akhir / Wekasan / Pungkasan dalam bulan Safar. Maka pada hari itu adalah Hari Na'as (Dino Kang Luwih Berate Lan Angele Kabeh Dino Dino Rebo Ing Wulan Safar). Mongko sopo wong sholat sunnat mutlak 4 rakaat 2 salaman ing dalem dino iku ing saben- saben rakaat sak wise moco fatihah, moco surat:

  • Moco Surat Al Kautsar 17x
  • Moco Surat Al Ikhlas 5x
  • Moco Surat Qul Audlu Birobbil Falaq 1x
  • Moco Surat Qul Audlu Birobbinnas 1x

     Lan sak wise salam moco dungo, mengko wong iku direkso dening Allah SWT kelawan lomane saking sekabehe balak / bencana/ penyakit kang temurun ing dalem dino iku lan ora den ubengi balak-balak wiwit dino iku tumeko sempurnane tahun. Ono dene dungo kang di woco sakwise salam iku mengkene

     Mengenai masalah hiburan dari tahun ke tahun berubah sesuai dengan situasi dan kondisi zaman. Kalau dulu hiburan yang sangat dominan antara lain : Wayang Kulit, Panggung Sandiwara yang bernafaskan islam, Pencak Silat, Layar Tancap, Komidi Putar, dan Hadrah. Yang kesemuanya hampir kurang dilestarikan, hanya Seni Hadrah. Hadrah Al Banjari dan Gambus yang masih diadakan setiap tahun sekaligus mengadakan kegiatan istighotsah yang dilaksanakan setiap hari senin malam selasa sehari sebelum rebo wekasan di bulan Shafar.

     Arak-arakan tumpeng raksasa Acara ritual ini diikuti oleh masyarakat desa Suci dan sekitarnya bahkan banyak orang-orang yang datang dari luar Desa luar Kecamatan dan dari luar Kabupaten. Dari banyaknya pengunjung sehingga otomatis mengundang para penjual makanan yang tempo dulu sangat sederhana:

  • -Kacang Goreng/Godog dari Benjeng dan Balongpanggang
  • Serabi Raksasa dan Wingko dari Doho Banjarsari
  • Kupat Ketek dari Giri
  • Cao - Dawet - Rujak Legi - Lontong Bumbu Roomo dari Roomo

     Keramaian ini dulu terbatas hanya disekitar sumber depan masjid ini, lama-lama meluber ke jalan raya antara pertigaan Suci Pongangan sampai ke depan SD Negeri Suci saja. Berpuluh-puluh tahun kemudian sekarang meluber ke seluruh jalan desa Suci. Inilah latar belakang terjadinya REBO WEKASAN DESA SUCI.

MANFAAT REBO WEKASAN:

  1. Meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
  2. Ajang silaturrohim keluarga dari luar desa / dengan suguhan lontong bumbu ladan.
  3. Menambah penghasilan karena kaum pedagang luar daerah (tanpa diundang).
  4. Melihat dari dekat keindahan gunung suci dan sekitarnya (gunung ringgit dan gua-gua pada tempo dulu) bagi anak muda.
Penduduk Biasa
14 September 2016 13:09:16
Selamat atas keberhasilan Senggigi merayakan Hari Kemerdeakaan 2016!

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image  
 

 Statistik

 Agenda

 Sinergi Program

 Pemerintah Desa

 Komentar

 Media Sosial

 Peta Wilayah Desa

 Peta Lokasi Kantor


Kantor Desa
Alamat : Jl. KH. Syafii No 108 Desa Suci Kec. Manyar Kab. Gresik
Desa : Suci
Kecamatan : Manyar
Kabupaten : Gresik
Kodepos : 61151
Telepon : 0313930477
Email : [email protected]

 Statistik Pengunjung

  • Hari ini:45
    Kemarin:246
    Total Pengunjung:86.812
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:104.23.243.224
    Browser:Mozilla 5.0